Sadli Saleh. Foto: Dok. Istimewa.

Oleh: Erwin Usman

“Assalamualaikum, bang. Ini Sadli, mau mengabarkan bahwa alhamdulilah tanggal 17 Maret 2021 ini saya sudah bebas dari penjara. Saya dapat pembebasan bersyarat 6 bulan, bang….”

Itu telefon 4 hari lalu pada saya. Peneleponnya Sadli Saleh alias La Deli, jurnalis di Baubau, Sulawesi Tenggara. Dia alumnus IPB Bogor. Usianya kini 34 tahun.

Sadli divonis penjara 2 tahun -dari tuntutan jaksa 3 tahun- pada 26 Maret 2020 di Pengadilan Negeri Pasarwajo, Buton, atas laporan Bupati Buton Tengah, Samahudin.

Sebelumnya, Sadli yang merupakan pemimpin redaksi media online lokal, liputanpersada, membuat tulisan mengkritik kebijakan Bupati Buton Tengah dalam proyek pembangunan jalan simpang lima.

Baca Juga :   Dialog Itu Perlu Jenderal!

Tulisan yang dibuatnya berjudul: Abracadabra: Simpang Lima Labungkari Disulap Menjadi Simpang Empat.

Tulisan itu berujung pelaporan polisi. Sadli mulai ditahan pada 17 Desember 2019 di Rutan Baubau.

Dia didakwa melanggar Pasal 45 A Ayat 2 Jo Lasal 28 Ayat 2, Lasal 45 Ayat 3 jo Pasal 27 Ayat 3 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Saldi memiliki seorang istri, namanya Siti Marfuah, dan seorang putra bernama Fito, berusia 3 tahun. Istrinya bekerja sebagai pegawai honorer di Setwan DPRD Buton Tengah. Dia sempat diberhentikan, saat kasus Sadli suaminya mencuat. Dia lalu dipekerjakan kembali setelah vonis penjara 2 tahun dijatuhkan pada Sadli.

Baca Juga :   Rasisme Tertolak di Dunia yang Beradab!

Saya menyambut bebasnya Sadli ini dengan senang hati. Dia telah menjalani takdirnya. Penjara 1,3 tahun telah dilaluinya.

Tentu bukan hal mudah, masuk penjara meninggalkan anak istri di luar sana. Dia tentu sudah banyak menyimpan catatan. Siapa yang membantunya dalam kesulitan, siapa yang abai, serta siapa yang ikut-ikutan menyalahkan dan menyudutkannya. Atau, siapa yang malah mencoba mengambil keuntungan dari kepedihannya. Biarlah itu menjadi rahasia dirinya – juga keluarganya.

Tahun lalu, saya menulis sebuah puisi pendek untuk Saldi. Tanggal 9 Februari 2020. Saya kirim ke beranda FB saya.

Baca Juga :   COVID-19: Fatamorgana Peran Institusi Pendidikan

Puisi dari Erwin Usman untuk Sadli Saleh:

Dia Pasti Akan Jadi Peluru

Ada berita wartawan di penjara
Karena menulis hal janggal soal proyek negara
Pejabat dituju naik pitam. Marah
Laporkan ke polisi! Dia bertitah.

Si tuan pejabat sangka penjara menjerakan
Kau keliru besar, Tuan
Tuan tipis telinga, wajah senantiasa ditekuk
Penjara menjadikannya peluru. Tuan akan rasakan balasannya: suatu masa kelak.

Sadli, selamat bebas menghirup udara segar! Tetaplah menjadi berani dan kritis, kawan.


*Penulis adalah pendiri LBH Kendari dan Presidium Nasional PENA 98

sultranesia