Lambatu. Foto: Dok. Istimewa.

Oleh: Erwin Usman

Ajal begitu amat dekat dengan kita. Pagi ini, seorang yang sudah saya anggap orang tua sendiri di Kendari, telah berpulang dengan tenang.

Namanya Lambatu. Usianya 87 tahun. Dia adalah penyintas 1965. Eks tahanan politik (tapol) orde baru. Kami digerakan menyebutnya: ‘orang lama’.

Dia pernah mengikuti sekolah pendidikan hakim di Makassar. Sebelum kembali ke Buton di tahun 1960.

Ketika huru hara di tahun 1965, jabatannya adalah Kepala Cecretary Sub Seksi (CSS) PKI kecamatan Kapontori, Buton. Dia ditangkap pada 12 November 1965.

Baca Juga :   Kasus Rizky Afif di Kota Baubau: Apa Pelajaran untuk Kita?

Dia mengalami penyiksaan yang hebat selama ditahan – tentu saja tanpa proses pengadilan-.

5 tahun dijalani di LP Baubau, dan 7 tahun kerja paksa di Ameroro, Lambuya, Kendari. Bekerja membangun jalan, jembatan, sawah, parit, dan perumahan untuk aparat. Tanpa diupah.

Hingga setelahnya dia ditempatkan di kamp pengasingan (kampsing) eks tapol Nangananga. Sebuah lokasi di Selatan Kendari. Amat dekat dengan markas Polda Sultra dan kantor Gubernur Sultra saat ini.

Baca Juga :   Kualitas Air Buruk, Warga Kendari Bisa Gugat PDAM Tirta Anoa

Saya terakhir berjumpa pak Lambatu di tahun 2019. Di rumahnya. Bersama keluarganya. Saat itu dia sudah jalan berbantu tongkat penyangga.

Kami juga pernah sama-sama beberapa hari dalam acara: pertemuan korban pelanggaran HAM. Bersama ratusan korban lainnya. Yang digelar sejumlah organisasi jaringan aktivis HAM. Berlokasi di kampus UI Depok, tahun 2009, jelang Pemilu.

Lambatu orang baik. Teramat baik. Setiap bertemu wajahnya tenang. Memancarkan keteduhan sekaligus rona ketabahan. Bicaranya terstruktur dan berkharisma. Yang menandakan luasnya bacaannya pada masa lampau.

Baca Juga :   LBH Kendari: 40 Pekerja di-PHK Akibat Pandemi COVID-19

Dia adalah guru sekaligus kepala sekolah yang merintis dan memperkenalkan pendidikan gratis di Kapontori pada tahun 1960 -1964. Sekolah rintisannya itu kini bernama: SMP Negeri 1 Kapontori.

Selamat jalan, Lambatu. Al Fatihah. Insya Allah tenang di sisi-Nya.


* Penulis adalah pendiri LBH Kendari dan Presidium Nasional PENA 98.

sultranesia