Erwin Gayus

Oleh: Erwin Gayus

3 Maret merupakan hari yang istimewa bagi masyarakat Kabupaten Konawe. Di tanggal itu, ditetapkan sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Konawe.

Di tanggal 3 Maret tahun 2021 ini, Kabupaten Konawe genap berusia 61 tahun. Usia yang yang tidak muda lagi, lebih dari setengah abad.

Di peringatan HUT Ke-61 tahun ini, tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya dengan berbagai acara ceremonial serta berbagai hiburan untuk masyarakat, mengingat kita masih dalam situasi pandemi COVID-19.

Namun, situasi pandemi tidak akan menjadi penghalang untuk terus melakukan refleksi di setiap melewati tangga usia setiap tahunnya.

Perjalanan panjang Kabupaten Konawe hingga mencapai usia ke-61 tahun saat ini, tentu telah menorehkan berbagai cerita, kisah dan sejarah dengan berbagai dinamika kehidupan masyarakatnya dan pemerintahannya.

Kesemuanya akan menjadi catatan-catatan yang akan dibaca generasi menadatang sebagai refleksi sehingga ke depan hal-hal yang baik dipertahankan dan ditingkatkan, sementara hal-hal yang buruk diperbaiki untuk kemajuan daerah. Maka penting untuk selalu merefleksikan setiap momentum peringatan HUT Kabupaten Konawe setiap tahunnya.

Dalam refleksi HUT ke-61 tahun ini, saya coba melihat dari sisi kekayaan sumber daya alam Kabupaten Konawe yang dihubungkan dengan kesejahteraan masyarakatnya. Dengan jumlah penduduk yang sangat besar, yakni mencapai 257.011 jiwa di tahun 2020, pemerintah Kabupaten Konawe memiliki tugas yang maha berat untuk mensejahterakan rakyatnya, baik dari sisi pembangunan manusianya maupun dari sisi pengelolaan sumber daya alamnya.

Baca Juga :   Normalisasi Hubungan Arab-Israel, Umat Terkhianati?

Berdasarkan data BPS Provinsi Sultra, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Konawe tiga tahun terakhir mengalami peningkatan, sekalipun tidak signifikan. Di tahun 2018, 70,72 tahun 2019, 71,29 dan 2020, 71,35. Kabupaten Konawe berada di urutan ke-4 IPM teringgi di bawah Kota Kendari, Kota Baubau dan Kabupaten Kolaka. Di dalam IPM ini ada tiga dimensi yang menjadi dasar pengukuran IPM, yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak.

Berdasarkan data ini, bisa dikatakan di usianya yang ke-61 tahun ini, dari sisi pembangunan manusianya, Kabupaten Konawe masuk kategori tinggi. Ini menjadi kesyukuran bagi masyarakat dan pemerintah Kabupaten Konawe.

Namun, keadaan ini bukan berarti membuat pemerintah berhenti mengupayakan peningkatan pembangunan manusia Kabupaten Konawe, khususnya dari sisi kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan data BPS, presentase penduduk miskin Kabupaten Konawe tahun 2020 masih berada pada 12,20%. Masih ada 2 digit presentase jumlah penduduk miskin. Memang di tiga tahun terakhir presentase penduduk miskin berkurang, namun tidak signifikan.

Di tahun 2018, 13,48% dan di tahun 2019, 12,34%. Padahal, jika kita dilihat dari sumber daya alam (SDA) Kabupaten Konawe yang begitu kaya dan melimpah khususnya pertanian dan pertambangan bisa untuk mensejahterakan masyarakat kabupaten Konawe sehingga bisa menekan jumlah presentase penduduk miskin.

Menarik juga kita melihat dari sisi pengolahan potensi SDA Kabupaten Konawe. Salah satunya adalah potensi pertanian tanaman pangan, yaitu padi. Kita mengenal Konawe merupakan lumbung beras bagi Provinsi Sultra. Jika kita melihat dari data BPS, jumlah beras lokal Konawe yang masuk di Bulog pada tahun 2020 mencapai 10.979 ton.

Baca Juga :   Salah Ketik (Typo) Senjata Utama Tangkal Kritikan Publik

Selain padi, Konawe juga dikenal dengan pengahasil tanaman pangan sagu. Jenis pangan ini merupakan kearifan lokal masyarakat Konawe yang diolah menjadi makanan tradisonal masyarakat Konawe. Selain padi dan sagu, ada juga perkebunan Cacao dan Kelapa Sawit yang merupakan komiditi yang cukup menjajikan bagi kesejahteraan masyarakat kabupaten Konawe.

Masih dari sisi sumber daya alam, Kabupaten Konawe juga memiliki kandungan yang kaya akan sumber daya energy dan mineral (ESDM) yaitu Nikel. Di Konawe telah hadir perusahaan besar yang mengelola pertambangan nikel yaitu PT VDNI dan PT OSS yang hadir dengan pabrik smelternya. Tentu ini akan menyerap tenaga kerja yang begitu besar, yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Konawe.

Belum lagi perusahaan-perusahaan tambang kecil yang lainnya yang beroperasi di tanah kabupaten Konawe.
Yang menjadi pertanyaan kritis kita sebagai refleksi di 61 tahun usia Kabupaten Konawe adalah: apakah kekayaan sumber daya alam Kabupaten Konawe sudah secara signifikan memberi dampak kesejahteraan bagi masyarakat Konawe?. Tentu untuk menjawab ini, butuh kajian ilmiah yang dilakukan secara mendalam. Namun, setidaknya kita bisa melihat dampak kesejahteraannya dari data BPS yang saya sebutkan sebelumnya bahwa presentase penduduk miskin Kabupaten Konawe masih di 12,20%. Masih ada di 2 digit dengan penurunan di tiga tahun terakhir tidak signifikan, yang artinya tidak sebanding dengan kekayaan sumber daya alam kabupaten Konawe.

Baca Juga :   Gagal Jalankan Mandat Jokowi: Erick Thohir Out

Inilah tugas pemerintah Kabupaten Konawe yang harus mendorong potensi sumber daya alam Konawe untuk dikelolah sebaik-baiknya, sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk kesejahteraan para pejabat.

Mesti ada kolaborasi seluruh elemen masyarakat Kabupaten Konawe dalam hal mendorong pengelolaan dan pemanfaatan kekayaan sumber daya alam Kabupaten Konawe untuk kesejahteraan bersama masyarakat.
Yang tidak kalah penting dan tidak boleh terlupakan adalah soal dampak lingkungan dari pengelolaan sumber daya alam tersebut.

Kehadiran industry-industri besar baik pertambangan (nikel) maupun perkebunan (sawit) harus memperhatikan dampak lingkungan yang ditimbulkan. Banjir besar yang melanda Kabupaten Konawe pada pertengahan tahun 2019 cukup menjadi pembelajaran, bahwa pengelolaan sumber daya alam juga mesti dibarengi dengan menjaga kelestarian lingkungan.

Harus ada perhatian khusus pemerintah, jangan sampai alih-alih mewujudkan kesejahteraan malah mendatangkan bencana.

Selamat HUT ke-61 tahun Kabupaten Konawe. Semoga diusianya yang ke-61 tahun ini, kita bisa bersama-sama, berkolaborasi mengupayakan kekayaan SDA sebanding dengan kesejahteraan rakyatnya.


*Penulis adalah Ketua PKC PMII Sultra dan mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Nasional Jakarta.

sultranesia