Penutupan Jembatan Teluk Kendari mulai Senin (26/10). Hanya pejalan kaki yang diizinkan melintas. Foto: Dok.Istimewa

Kendaraan baik roda dua maupun roda empat mulai Senin (27/10) dilarang melintas di Jembatan Teluk Kendari (JTK). Sementara untuk para pejalan kaki tetap diizinkan.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) XXI Kendari, Yohanis Tulak Todingrara kepada wartawan.

Yohanis mengatakan, pihaknya saat ini sedang melakukan rapat koordinasi bersama pihak terkait membahas masalah rambu-rambu di JTK.

Dia juga mengatakan bahwa sedari awal pihaknya memang telah membuat peraturan bahwa usai peresmian hanya pejalan kaki saja yang boleh melintas.

Baca Juga :   Usai Diajak Jalan-jalan ke Jembatan Teluk Kendari, Seorang Gadis Dicabuli Temannya 3 Kali

“Tapi karena kita juga tahu, masyarakat senang sekali dengan adanya jembatan, dan euforianya sangat tinggi, yah kami biarkan, kami puas-puasin dulu mereka selfie-selfie,” katanya.

Namun demikian, mulai hari ini pihaknya menutup sementara JTK untuk kendaraan. Sedangkan pejalan kaki tetap diizinkan.

“Hari ini kami menutup jembatan, sekaligus rapat koordinasi dalam rangka persiapan untuk mematangkan operasi jembatan baik jalan, uji laik fungsi jalan di sekitar itu. Baik persimpangan, pengaturan rambu-rambunya serta rekayasa lalu lintasnya. Jadi biarkan clear dulu, hanya untuk pejalan kaki saja,” imbuhnya.

Baca Juga :   Megahnya Jembatan Teluk Kendari, Kepentingan Rakyat atau Korporat?

Ditanya soal kapan JTK kembali dibuka untuk kendaraan, Yohanis bilang belum tahu, masih menunggu hasil rapat.

“Untuk waktunya kapan dibuka saya belum dapat mengeluarkan statemen, sebab itu akan ditahu setelah rapat nanti,” ujarnya.

Yohanis menegaskan bahwa penutupan JTK untuk kendaraan bukan karena adanya kecelakaan lalu lintas yang terjadi di jembatan.

Baca Juga :   Jembatan Teluk Kendari Akan Dibuka Kembali untuk Kendaraan

“Sekali lagi, memang dari awal saat dibuka sebenarnya kami hanya mengizinkan untuk pejalan kaki. Tapi karena euforia masyarakat sehingga kita sedikit toleransi. Tapi saya rasa saat ini masyarakat sudah cukup menikmati, jadi kita tutup dulu. Paling tidak bagian ujung itu harus ada tempat parkir kalau memang mereka tetap mau berdatangan,” pungkasnya.


Editor: Wiwid Abid Abadi

sultranesia