Hasirun Adi. Foto: Asrul Hamdi/Sultranesia.id

Wakil Sekretaris Panitia 7 penggagas pemekaran Kabupaten Wakatobi, Hasirun Ady mengaku sedih dan prihatin melihat kondisi Wakatobi saat ini yang kontras dengan semangat pemekaran.

Kesenjangan sosial, masih kurangnya pelayanan kesehatan, serta minimnya perputaran ekonomi yang masih menjadi keresahan masyarakat membuat tim penggagas pemekaran Wakatobi yang tergabung dalam Tim 7 angkat bicara.

Menurutnya, anggaran Wakatobi saat ini belum bisa dimanfaatkan oleh Pemda untuk mengurai masalah-masalah yang ada.

sultranesia

“Otonomi daerah adalah kebijakan untuk memberi kesempatan seluas-luasnya kepada daerah untuk mengelola anggarannya, tujuannya mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang bertumpu pada sektor pendidikan, kesehatan dan infrastruktur, khususnya jalan,” kata Hasirun Ady saat orasi dalam kampanye dialogis HATI beberapa waktu lalu.

Mantan Kepala Dinas Kesehatan Wakatobi itu juga menyayangkan pelayanan kesehatan di Wakatobi yang masih menjadikan Kota Baubau dan Kendari sebagai langganan rumah sakit rujukan.

“Ini sudah sangat jauh dengan harapan pemekaran, yaitu untuk mendekatkan pelayanan masyarakat khususnya bidang kesehatan. Kita sangat sayangkan kondisi ini, kesehatan merupakan kebutuhan dasar sehingga perlakuannya harus lebih. Percuma kita memiliki rumah sakit yang megah namun pelayanan tidak maksimal,” katanya.

Menurut dia, dalam waktu 4 tahun terakhir, sektor-sektor yang menggerakkan pintu ekonomi warga tak diperhatikan dengan baik.

Berita Terkait :   Tolak Ridwan Zakaria, Pengurus dan Simpatisan Golkar Butur Duduki Kantor Golkar Sultra

“Berbagai sektor penggerak ekonomi harus diperhatikan karena merupakan sumber penghasilan serta daya dukung peningkatan ekonomi masyarakat,” katanya.

Menurut dia, Haliana dan Ilmiati merupakan harapan besar bagi Wakatobi untuk kembali pada masa kejayaannya. Ini tercermin pada kepribadian kedua figur yang selalu dekat dengan rakyat, baik momen suka maupun duka.

“Haliana ini saya tahu persis kepribadiannya, selalu hadir di masyarakat dan bukan nanti disaat pilkada. Setiap tiga bulan beliau turun keliling Wakatobi dari Wangiwangi hingga Binongko, itu artinya beliau ada perhatian untuk masyarakat,” imbuhnya.

Hasirun menambahkan, Ilmiati Daud sebagai puteri dari sosok pemimpin yang sukses membangun Muna yakni Maola Daud yang juga pernah menjabat sebagai Sekda di Kolaka.

“Pak Maola Daud itu orangnya cepat, mau maju dengan melakukan pekerjaan atau pembangunan selalu berkoordinasi, sosok itu juga yang dianugerahi pada Ibu Ilmiati, orangnya mau cepat dan tepat untuk kesejahteraan masyarakat,” tutupnya.


Laporan: Asrul Hamdi

sultranesia