Sejumlah keluarga pasien mengamuk di Puskesmas Tondasi, Mubar. Foto: Tangkapan layar video viral.

Video berdurasi 30 detik yang memperlihatkan sejumlah orang mengamuk dan adu mulut dengan petugas kesehatan viral di media sosial (medsos).

Setelah ditelusuri, kejadian itu terjadi di halaman Puskesmas Tondasi, Muna Barat (Mubar), pada Kamis (1/10).

Salah seorang yang berada di dalam video viral itu bernama Kardin berhasil dikonfirmasi Sultranesia.id. Kardin membenarkan aksi itu dia lakukan bersama beberapa keluarganya di Puskesmas Tondasi.

sultranesia

“Benar itu, pak, pegawai puskesmas sendiri yang video,” ungkap Kardin kepada Sultranesia.id, Sabtu (3/10) pagi.

Kardin kemudian bercerita mengapa sampai dirinya serta keluarganya marah,  dan mendatangi puskesmas.

Masalah itu bermula saat kakeknya bernama Abu Baida yang berumur sekitar 71 tahun, sakit. Abu Baida menderita susah buang air kecil dan buang air besar. Penyakitnya sudah dia derita sekitar sebulan lebih.

Karena penyakit itu, kakeknya kemudian diberikan surat rujukan oleh petugas Puskesmas Tondasi untuk menjalani pengobatan ke RS Bhayangkara, Kendari.

Saat di RS Bhayangkara dilakukan rapid test terhadap Abu Baida, dan hasilnya adalah reaktif corona. Sehingga pihak rumah sakit menyarankan untuk pindah ke RSUD Bahteramas atau RS Abunawas.

“Tapi saya punya bibi, om, semua tidak setuju, akhirnya dibawa pulang kembali ke kampung karena penyakit awalnya juga sudah membaik,” ujar Kardin.

Setelah dua hari berada di kampung, datang petugas kesehatan sebanyak 4 orang. Mereka datang bersama Kades, Sekcam, dan Babinsa.

Mereka datang menginformasikan kepada keluarga bahwa kakek Abu Baida positif COVID-19. Mereka meminta untuk dikarantina ke RSUD Muna.

“Tapi keluarga tetap tidak setuju. Jangan sampai meninggal dibilang lagi corona,” imbuhnya.

Selang beberapa waktu setelah berdiskusi, Abu Baida kemudian diizinkan oleh petugas kesehatan yang datang untuk melakukan karantina mandiri di rumah.

Setelah itu, lanjut Kardin, 8 orang dari keluarga yang diduga kontak erat dengan Abu Baida melakukan tes swab pada 17 September 2020.

Dalam benak Kardin, jika kakeknya benar terpapar COVID-19, maka yang terlebih dahulu positif adalah nenek, dan adiknya. Sebab mereka yang paling sering kontak dengan kakeknya.

“Yang makan sisanya kakekku, memandikan kakekku, itu mereka berdua,” katanya.

Setelah hasil swab keluar pada 26 September 2020, lanjut dia, yang dinyatakan positif corona malah tantenya, Hasnani. Sementara pihak keluarga lainnya, termasuk nenek dan adiknya yang kontak sangat erat dengan Abu Baida justru negatif.

Padahal, menurut Kardin, secara fisik tantenya yang dinyatakan positif itu sehat-sehat saja. Tantenya juga belum pernah bersentuhan langsung dengan kakek Abu Baida.

“Saat kakek sakit, dia (Hasnasi) ada di Kabupaten Selayar urusan keluarga. Sepulangnya dia di Tondasi, kakek sudah dalam perjalanan ke Kendari. Saat tante menyusul ke Kendari, kakek malah sudah pulang ke Tondasi.  Makanya tidak baku dapat. Tapi hasil swabnya malah dinyatakan positif,” ujarnya.

Saat dinyatakan positif, kata Kardin, tantenya yang saat itu sementara berada di Kendari kemudian melakukan pemeriksaan rapid test di Maxima pada 29 September 2020, dan hasilnya non reaktif.

Berita Terkait :   Setelah Meninggal Dunia, Anggota DPRD Buton Ini Dinyatakan Positif COVID-19

Akibat kasus itu dirinya merasa sangat dirugikan karena stigma masyarakat terhadap keluarga mereka yang terjangkit corona.

“Akibat isu positif COVID-19 ini seluruh keluarga kami dikucilkan oleh masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Akhirnya pada Kamis, 1 Oktober 2020 Kardin beserta sejumlah keluarga lain ‘mengamuk’ di Puskesmas untuk mempertanyakan masalah itu.

“Kenapa disini hasilnya negatif sedangkan disitu positif? Kita ke Puskesmas adu mulut sama pegawai Puskesmas,” terang Kardin.

Kata dia, petugas kesehatan lalu memanggil Hasnani di dalam suatu ruangan Puskesmas. “Kalau bisa Bu, begini saja, nanti saya bikinkan surat bebas corona, nanti di edarkan di pulau-pulau sana supaya jangan rusak (dimata masyarakat),” ujar Kardin menirukan pernyataanyan petugas kesehatan.

“Kayak mereka meminta atur damai lah,” sambungnya.

Saat ditanyakan terkait keberadaan Hasnani, Kardin bilang tantenya sedang berdagang di desa tetangga.

“Saat ini dia (Hasnani) berada di Pulau Balu (Desa Santiri, Kecamatan Tiworo Utara) menjual. Dia menjual alat-alat rumah tangga. Dia sehat, tidak positif corona,” pungkasnya.

Sementara itu, Juru Bicara Gugus Tugas COVID-19 Mubar, Rahman Saleh membantah keterangan pihak keluarga.

“Dari cerita ini banyak tidak benarnya. Jangan dibandingkan repid test dengan swab. Untuk menentukan orang terpapar COVID-19 bukan repid test, tapi swab dan berlaku secara global. Positif corona tidak harus terbaring di rumah sakit, tapi orang sehat pun kalau bisa terpapar ini yang disebut OTG,” jelasnya.

Rahman juga menjelaskan bahwa setelah pasien Abu Baida tiba di Tondasi, beberapa hari kemudian penyakitnya kambuh, dan dokter menyarankan untuk dilakukan swab.

“Setelah tiba di Tondasi beberapa hari kemudian pasien kambuh penyakitnya, karena dari hasil rapid test di RS Bhayangkara (reaktif) maka dokter menyarankan swab untuk memastikan jngan sampai terpapar COVID-19. Apalagi ada penyakit penyerta yg memperberat. Dilakukanlah swab, setelah keluar hasilnya positif maka dilakukan edukasi untuk karantina di RSUD Muna. Tapi keluarga menolak, maka kita ikutkan keinginan keluarga dengan pengawasan dokter puskesmas,” urainya.

Rahman bilang, kalau terkait surat keterangan bebas COVID-19 tidak ada pengaturan, karna memang waktu karantina sudah selesai. Sesuai KMK terbaru, pasien positif tanpa gejala karantina 10 hari tanpa follow up terhitung sejak pengambilan sampel sudah dinyatakan sembuh dari dokter yang merawat.

“Waktu pengambilan sampel 17 September dan swab keluar 26 September maka waktu karantina cuma satu hari, artinya surat itu 27 September sudah bisa dikeluarkan,” terangnya.

Meski begitu, kata dia, yang bersangkutan harus dievaluasi kembali apakah ada keluhan atau tidak.

“Kalau tidak ada maka keluar surat selesai isolasi bukan karna mereka demo di puskesmas. Jadi kami bekerja berdasarkan aturan dan pedoman yang kami gunakan,” pungkasnya.


Laporan: Denyi Risman

sultranesia