Abdul Jamil Al Rasyid. Foto: Dok. Istimewa.

Oleh: Abdul Jamil Al Rasyid

Silaturahmi adalah salah satu cara untuk menyambung tali persaudaraan. Silaturahmi sendiri tentunya dilakukan oleh setiap manusia baik yang berada dekat dengan manusia itu sendiri maupun jauh. Silaturahmi adalah menjalin hubungan baik antara manusia satu dengan lainnya. Kenapa silaturahmi penting karena silaturahmi ini tentu dapat menimbulkan kebaikan dengan seseorang, disamping itu kita sebagai manusia adalah makhluk sosial tentu perlu berhubungan baik dengan orang lain.

Ketika kita menaburkan kebaikan kepada suatu orang, maka orang lain tidak sungkan pula memberikan hubungan baik lagi terhadap kita. Sebelum kita menjalin silaturahmi yang baik terhadap orang lain maka kita dapat menaburkan suatu kebaikan terhadap orang lain. Kita tentu ingin dilihat baik oleh semua orang, makanya dalam hidup kita tentu perlu menjaga silaturahmi dengan erat. Kita perlu menghargai setiap orang, misalnya orang tersebut buruk terhadap kita, tentu kita hargai suatu saat dia akan baik terhadap kita saat kita menolongnya.

Silaturahmi juga erat kaitannya dengan tolong menolong, ketika kita menolong orang yang sedang dalam kesusahan maka hal ini sudah bisa dikatakan salah satu jalan untuk bersilaturahmi antar sesama. Misalnya ada tentangga kita yang kesusahan, maka hal ini perlu kita tolong, suatu saat dia akan menolong kita. Silaturahmi tentu dilakukan dengan cara hubungan timbal balik, adaa feed back yang kita terima, makanya sebelum kita memiliki silaturahmi yang erat maka kita tanamkan kebaikan.

Silaturahmi tentu tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang, biasanya dilakukan oleh orang yang senang bergaul, ceria, suka tolong menolong. Kriteria orang seperti ini adalah orang yang suka bersilaturahmi, karena tanpa silaturahmi itu bisa dikatakan bahwa hidup kita akan lebih sulit karena kita tidak pernah menuai kebaikan terhadap seseorang. Orang yang bersilaturahmi terhadap orang lain tentu dipandang oleh tuhan sendiri, dalam agama Islam Allah Swt menyuruh orang untuk bersilaturahmi agar terjalin hubungan yang erat dengan orang muslim lainnya.

Silaturahmi dalam islam dianjurkan karena muslim lain adalah saudara kita karena hal ini kita tentu bisa berpikir sebagai umat islam bahwa orang yang menuai kebaikan dengan bersilaturahmi terhadap sesama maka ia adalah orang yang diridhoi oleh Allah Swt sendiri. Orang yang tidak suka bersilaturahmi tentu tidak diridhoi. Hubungan antara sesama juga bermanfaat karena orang yang berada di sekitar kita, akan menolong kita kelak.

Silaturahmi dilakukan ketika kita mengunjungi rumah orang lain. Bertamu kerumah orang adalah cara yang paling mudah untuk menjalin silaturahmi. Oleh karena itu ketika orang yang datang berkunjung kerumah kita, hargai dia, karena dengan memuliakan tamu maka rezeki kita akan ditambah oleh Allah Swt. Jaga tali persaudaraan kita karena kita hidup diatas dunia untuk saling tolong menolong dalam kebaikan bukan untuk saling salah menyalahkan.

Ketika silaturahmi kita terputus maka carilah jalan agar kita kembali bersilaturahmi sebagaimana dahulu. Apabila kita membuat suatu kesalahan, maka mintaa maaflah karena bisa memutus tali silaturahmi diantara kita. Uang juga bisa menjadi pemutus tali silaturahmi karena ketika kita berhutang dan tidak membayar maka ini bisa saja memutus tali silaturahmi kita. Begitu juga dengan cinta ketika kita dahulu sebelum pacaran dia adalah teman dan juga ketika putus tidak saling menyapa, itu merupakan pemutus tali silaturahmi.

Banyak hal diatas dunia yang bisa memutus tali silaturahmi antar kita, oleh karena itu penulis mengajak hati-hatilah dalam membuat sesuatu karena bisa saja hal tersebut menjadi tali pemutus silaturahmi diantara kita. Oleh karena itu kita perlu menanamkan tali silaturahmi antar kita, baik itu saudara kita, sanak kita, dan family kita. Sekrang yang berhubungan dengan seseorang lagi tidak baik-baik saja, maka selesaikan dengan cepat karena ketika hubungan silaturahmi yang putus bisa saja membuat hidup menjadi sempit dan silaturahmi sendiri berasal dari hati kita sendiri, apakah kita mau melakukan atau tidak?


Penulis adalah Abdul Jamil Al Rasyid. Mahasiswa Sastra Minangkabau FIB Unand angkatan 2019 berdomisili di Padang Pariaman Sumatera Barat Santri Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Nurul Ikhlas Patamuan Tandikek.

sultranesia