Ilustrasi pemaksaan mengundurkan diri. Foto: Hukumonline.com.

Seorang karyawan yang bekerja di perusahaan jasa keamanan PT Kurnia Oryza Reksa Perkasa (PT Korp), La Ode Abdul Rahmani, mengaku dipaksa membuat surat pengunduraan diri oleh pihak perusahaan.

Sebelumnya, dia bertugas sebagai sekuriti di Gedung Bulog Baru (GBB) yang terletak di Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Batalaiworu, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

Dirinya mengaku kecewa dengan keputusan sepihak pihak perusahaan yang didirikan 7 Desember 2007 dengan modal sepenuhnya milik Koperasi Pegawai Bulog ini.

Padahal sejak awal didirikan GBB itu tahun 2016, dia bekerja menjaga tempat itu secara suka rela, dan kemudian dikontrak PT Korp tahun 2017.

“Dulu saya tidak digaji sepeser pun selama 11 bulan menjaga gudang Bulog. Dan akhirnya dikontrak setiap tahun oleh PT Korp,” kata La Ode Abdul Rahmani Rabu (13/10).

Pria yang kerap menjaga gudang Bulog seorang diri selama 24 jam dalam 15 hari ini mengaku tidak pernah mendapatkan teguran lisan maupun tertulis dari perusahaan yang mempunyai visi One Stop Service ini.

“Tidak ada teguran. Tiba-tiba gaji saya diputus. Begitu saya tanyakan status kontrak yang masih berjalan hingga Desember 2021, malah diminta buat surat pengunduran diri oleh Sekretaris PT Korp Divre Sultra, Pak Yohanes,” ungkapnya.

“Kalau perusahaan menginginkan saya berhenti, jelaskan alasannya dan penuhi hak-hak saya. Jangan sampai dipaksa tulis surat pengunduran diri agar pesangon tidak dibayar,” kesalnya.

Sultranesia kemudian melakukan penelusuran lebih jauh dengan memintai keterangan Kepala Cabang Bulog Raha, Ritno. Namun, Ritno enggan untuk berkomentar banyak terkait hal itu.

“Barangkali konfirmasinya langsung ke vendor, karena kita hanya sebagai pemakai jasa PT Korp,” ujar Ritno melalui telepon selulernya, Kamis (14/10).

Sementara itu, Sekretaris PT Korp Divre Sultra, Yohanes juga bungkam tak mau memberi keterangan. Dia mengarahkan untuk langsung menghubungi kepala perusahaan.

“Jangan saya, bukan saya yang anu (berhak memberi keterangan) nanti dengan kepalanya yang sekarang. Saya anggota ji. Minta maaf di,” katanya sembari menutup panggilan telepon, Kamis (14/10).

Jurnalis media ini kemudian menghubungi Kepala PT Korp Divre Sultra, Abdul Kadir melalui SMS dan WhatsApp pribadinya pada Kamis (14/10). Namun hingga berita ini dirilis belum ada jawaban.

Saat ditelepon melalui nomor pribadinya, telepon berdering tetapi tak diangkat.


Editor: Wiwid Abid Abadi

sultranesia