Surat yang ditinggalkan para pelaku di rumah salah satu korban. Foto: Dok. Istimewa.

Polsek Lasusua berhasil menangkap komplotan pencuri spesialis rumah kosong yang sudah beraksi 18 kali di Kolaka Utara (Kolut).

Ada empat pelaku yang ditangkap, masing-masing berinisial R (21), S (23), dan F (24). Satu pelaku dirahasiakan identitasnya karena masih di bawah umur.

Kapolsek Lasusua, AKP Jamil mengatakan, pengungkapan kasus pencurian tersebut berawal dari banyaknya aduan masyarakat.

Petunjuk awal pengungkapan kasus tersebut yakni adanya informasi penjualan barang elektronik dengan harga murah.

Baca Juga :   Komplotan Pencuri yang Satroni 18 Rumah Warga Kolut Ditangkap Polisi

Setelah melakukan penyelidikan, diamankanlah keempat pelaku di tempat berbeda di Kota Lasusua.

Dan diketahui, tersangka yang ditangkap merupakan residivis dengan kasus yang sama.

Ada yang unik dari aksi para pelaku. Komplotan itu sempat meninggalkan surat di rumah korban di Desa Ponggiha, Kecamatan Lasusua.

Dalam surat itu, pelaku menuliskan bahwa ada pencuri. Mereka juga mengaku rugi mencuri di rumah korban ini, karena diketahui mereka hanya mendapatkan TV berukuran kecil.

Baca Juga :   Komplotan Pencuri yang Satroni 18 Rumah Warga Kolut Ditangkap Polisi

“Awas ada pencuri. Ha ha ha. Rugiki mencuri di rumah begini. Tapi setidaknya anda dipantau,” isi surat yang ditinggalkan para pelaku.

AKP Jamil membenarkan surat itu ditulis oleh para pelaku saat menjalankan aksinya di sebuah rumah di Desa Ponggiha.

Komplotan tersebut memang selalu memantau rumah kosong sebelum menjalankan aksinya.

“Iya, surat itu mereka (komplotan pencuri) yang tulis,” kata Jamil Kamis (16/9).

Baca Juga :   Komplotan Pencuri yang Satroni 18 Rumah Warga Kolut Ditangkap Polisi

AKP Jamil bilang masih menyelidiki keterlibatan penadah. Adapun barang bukti yang diamankan polisi masing-masing satu unit motor dinas, 5 tv, 13 tabung gas, 4 handphone, 4 laptop, 10 sarung baru, dan satu kompresor.

Tiga tersangka dikenai Pasal 363 subsider 362 tentang pencurian dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.


Editor: Wiwid Abid Abadi

sultranesia