Ahmad Habibi.

Oleh: Ahmad Habibi

Pada 17 Agustus 2021 Indonesia telah mencapai usia 76 tahun, yang mana usia tersebut bukan lagi usia muda untuk sebuah bangsa merdeka. Tetasan darah dan ribuan nyawa telah berkorban demi kita para anak cucu pendiri bangsa ini agar dapat menikmati kemerdekaan, bukan hanya dalam hal politik semata, tentu juga dalam hal kemandirian ekonomi, tehnologi dan kemandirian bangsa.

Presiden Soekarno pernah berujar dalam pidatonya yang terkenal “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.

Kalimat tersebut apabila kita pahami secara filosofis memilik makna yang dalam, yaitu para pendiri bangsa pada masa itu telah mampu memprediksi kualitas para-penerus bangsa (kita semua), dimana dalam keadaan terjajah saja (sebelum 17 agustus 1945) banyak pemuda kita yang bersinar baik didalam negeri maupun diluar negeri.

Moment kemerdekaan ke-76 ini perlu kita jadikan refleksi dengan berkaca pada diri sendiri tentang apakah yang telah kita lakukan dan apa yang kita berikan pada negara, bukan hanya bertanya apa yang telah kita peroleh selama negara ini merdeka.

Pandemi COVID-19 banyak menelan korban, bukan hanya korban nyawa, namun mengguncang sector ekonomi bahkan mengekakang kebebasan masyarakat tanpa terkecuali. Situasi yang semakin parah ini tentu perlu Kerjasama yang baik antar setiap individu sebagaimana kearifan local yang para pendahulu kita ajakan yaitu gotong royong dan semangat kebersamaan dalam membangun bangsa.

Baca Juga :   Gagal Jalankan Mandat Jokowi: Erick Thohir Out

Pada masa ini kebebasan berkumpul berserikat dan berfikir telah dijamin oleh negara sehingga setiap orang bebas ber ekspresi tanpa takut ekpresi tersebut akan diintimidasi oleh orang lain/pihak lain. Pemuda-pemudi pada masa ini bebas menentukan sikap, ideologi politik, bahkan buah pemikirannya dapat pula dapat diekspresikan dalam kehidupan realistis.

Pemuda-pemudi haruslah bersifat kritis terhadap keadaan dan kondisi sosial yang ada, pemuda haruslah berfikir idealis bukan justru bersikap pragmatis bahkan apatis. Sikap pemuda haruslah tajam, kritis dan mandiri dalam berperan serta membangun bangsa yang merupakan representasi dan harapan dari Ideologi Pancasila.

Pancasila yang kita kenal dari sila ke-1 sampai ke-5 dibangun berdasarkan 3 elemen yaitu elemen filosofis, elemen politik dan elemen yuridis. Sila pertama merepresentasikan elemen filosifis dimana negara memberikan kebebasan warganya untuk meyakini apa yang yang menjadi kepercayaannya, sila kedua dan ke tiga merepresentasikan aspek politik yang terangkum dalam kebhinekaan nasional sedangkan sila ke empat dan ke lima merepresentasikan elemen yuridis (jaminan atas keadilan) baik dari sector ekonomi, sosial, politik maupun hukum.

Baca Juga :   Pandemi Ketidakpatuhan Sipil

sungguh miris kondisi masa kini, banyak pemuda justru terjebak dalam kondisi pragmatisme dan apatisme. Banyak Pemuda masa ini jauh dari harapan para pendiri bangsa, yang mana banyak pemuda enggan berfikir kritis namun lebih cenderung bersikap pragmatis.

Pragmatisme merupakan sifat atau ciri seseorang yang cenderung berfikir praktis, sempit dan instant. Orang yang mempunyai sifat pragmatis ini menginginkan segala sesuatu yang dikerjakan atau yang diharapkan ingin segera tercapai tanpa mau berfikir panjang dan tanpa melalui proses yang lama. Sifat pragmatis tersebut terlihat dari keengganan pemuda-pemudi terlibat dalam proses sosial melakukan kritik atas ketidakadilan, ketidak efisienan, bahkan ke engganan pemuda-pemudi terlibat dalam politik praktis maupun berorganisasi.

Organsisasi yang dijalankan pula hanya bersifat simbolis dan lebih cenderung hanya dijadikan tempat kumpul-kumpul atau kongko-kongko semata. Gerakan pemuda-pemudi hanya menjadi Gerakan simbolis pada hari peringatan tertentu menyangkut kepemudaan, padahal pemuda adalah asset bangsa dan negara.

Baca Juga :   Preposisi Ketenagakerjaan Sultra: Politisi Lokal dan Investasi Strategis Nasional

Negara tak akan merdeka tanpa adanya pemuda, dan tak ada orang tua yang tak pernah menjadi pemuda, sehingga sangat miris apabila melihat keadaan masa ini. Meminjam istilah budaya menurut Menurut Richard L. Daft (2018, 431) Kebudayaan merupakan Seperangkat nilai kunci, asumsi, pemahaman, dan norma yang dimiliki bersama oleh anggota organisasi dan diajarkan kepada anggota baru sebagai hal yang benar. Organisasi merupakan hasil dari proses budaya sehingga budaya organisasi pada masa ini telah mengalami kemunduran dan bukan mengalami kemajuan.

Kelompok-kelompok sosial terbentuk hanya bergumul menjadi satu berkumpul duduk-duduk berfoto-foto diresto mewah, memamerkan kemapanan, sementara masih banyak orang disekitarnya membutuhkan uluran tangan. Ruang gerak organisasi berubah dari maksud sosial namun justru menjadi tempat pamer dan mencari kemapanan. Budaya apatisme diajarkan antar senior dan junior.

Pemuda haruslah sensitive terhadap lingkungan, menjauhi sifat apatis dan pragmatis selain itu harus berani serta bernyali beda. Pemuda haruslah mampu membuat inovasi yang berguna dan bermanfaat bagi masyarakat, akhir kata Selamat hari Ulang Tahun Republik Indonesia Ke-76.


*) Penulis adalah praktisi hukum.

sultranesia